Rabu, 13 Oktober 2010

Made Ngurah Bagiana, Pedagang Gerobak Jadi Pengusaha Burger

Posted by: warisancoetomocoid on: Mei 19, 2009
• In: CERITA SUKSES
• Comment!
Dari Preman Jadi Pengusaha Sukses
Lulusan STM bangunan ini mengawali bisnisnya hanya dengan dua gerobak. Kini, ia memiliki 10 pabrik dan 2.000 outlet Edam Burger yang tersebar di seluruh Indonesia. Segalanya tentu tak mudah diraih. Bahkan, ia pernah menjalani hidup yang keras di Jakarta.
Di rumah mungil di kawasan Perumnas Klender, Jakarta Timur, belasan pegawai berkaus merah kuning terlihat sibuk. Roti, daging, sosis, hingga botol-botol saus kemasan bertuliskan Edam Burger disusun rapi dalam wadah-wadah plastik siap edar.

Pembawaannya sederhana, tak ubahnya seperti pegawai lain yang mengaku tidak terbiasa rapi, hanya pakai oblong dan celana pendek,” tutur Made Ngurah Bagiana, sang pemilik Edam Burger.
” Terus terang, saya suka malu dibilang pengusaha sukses yang punya banyak pabrik dan outlet. Bukan tidak mensyukuri, tapi saya hanya tak mau dicap sombong. Saya mengawali semua usaha ini dengan niat sederhana: bertahan hidup. Makanya, sampai sekarang saya ingin tetap menjadi orang yang sederhana. Sesederhana masa kecil saya di Singaraja, Bali.”
“Orang tua memberi saya nama Made Ngurah Bagiana. Saya lahir pada 12 April 1956 sebagai anak keenam dari 12 bersaudara. Sejak kecil, saya terbiasa ditempa bekerja keras. Malah kalau dipikir-pikir, sejak kecil pula saya sudah jadi pengusaha. Bayangkan, tiap pergi ke sekolah, tak pernah saya diberi uang jajan. Kalau mau punya uang, ya saya harus ke kebun dulu mencari daun pisang, saya potong-potong, lalu dijual ke pasar.”
Menjelang hari raya, beliau pun tak pernah mendapat jatah baju baru. Biasanya, beberapa bulan sebelumnya memelihara anak ayam. Kalau sudah cukup besar, dijual. Uangnya untuk beli baju baru. Lalu, sekitar usia 10 tahun, harus bisa memasak sendiri. Jadi, kalau mau makan, Ibu cukup memberi segenggam beras dan lauk mentah untuk diolah sendiri.
Pensiun Jadi Preman
Begitulah, hidup bergulir hingga menamatkan STM bangunan tahun 1975. Bosan di Bali, merantau ke Jakarta tanpa tujuan. Lalu menumpang di kontrakan kakak di Utan Kayu. Untuk mengisi perut, saya sempat menjadi tukang cuci pakaian, kuli bangunan, dan kondektur bis PPD.
Kerasnya kehidupan Jakarta, tak urung menjebloskannya pada kehidupan preman. Bermodal rambut gondrong dan tampang sangar, ada-ada saja ulah yang di perbuat. Paling sering kalau naik bis kota tidak bayar, tapi minta uang kembalian.
Toh, akhirnya pensiun jadi preman. Gantinya, berjualan telur. Beli satu peti telur di pasar, lalu diecer ke pedagang-pedagang bubur. Ternyata, usahanya mandeg. Lalu beralih menjadi sopir omprengan. Bentuknya bukan seperti angkot ataupun mikrolet zaman sekarang, masih berupa pick-up yang belakangnya dikasih terpal dengan menjalani rute Kampung Melayu – Pulogadung – Cililitan.
Tahun 1985, pulang ke kampung halaman. Pada 25 Desember tahun itu, menikah dengan perempuan sedaerah, Made Arsani Dewi. Oleh karena cinta kami bertaut di Jakarta, memutuskan kembali ke Ibu Kota untuk mengadu nasib. Dan membeli rumah mungil di daerah Pondok Kelapa. Waktu itu sambil bisnis mobil omprengan. Awalnya berjalan lancar, tapi karena deflasi melanda tahun 1986-an, jatuh bangkrut. Kerugian makin membengkak dan harus menjual rumah dan mobil. Lalu, akhirnya hidup mengontrak.
Nyaris Tersambar Petir
Titik cerah muncul di tahun 1990 pindah ke Perumnas Klender. Tanpa sengaja, melihat orang berjualan burger. Beliau pikir, tak ada salahnya mencoba. Lalu nekad meminjam uang ke bank, tapi tak juga diluluskan. Akhirnya dengan kesal dan malah meminjam Rp 1,5 juta ke teman untuk membeli dua buah gerobak dan kompor.
Bahan-bahan pembuatan burger, seperti roti, sayur, daging, saus, dan mentega, mengecer di berbagai tempat. Dibantu seorang teman, menjual burger dengan cara berkeliling mengayuh gerobak. Burger dagangannya di labeli Lovina, sesuai nama pantai di Bali yang sangat indah.
Banyak suka dan duka yang dialami. Susahnya kalau hujan turun, tak bisa jalan. Roti tak laku, Akhirnya, ya, dimakan sendiri. Masih untung karena istri bekerja, setidaknya dapur masih bisa ngebul. Pernah juga gara-gara hujan, nyaris disambar petir. Ketika itu tengah memetik selada segar di kebun di Pulogadung. Tiba-tiba hujan turun diiringi petir besar hingga jatuh telungkup dan baju belepotan tanah. Rasanya miris sekali.
Di awal-awal jualan, tak jarang tak ada satu pun pembeli yang menghampiri, padahal seharian mengayuh gerobak. Mereka mungkin berpikir, burger itu pasti mahal. Padahal, sebenarnya tidak. Hanya mematok harga Rp 1.700 per buah. Baru setelah tahu murah, pembeli mulai ketagihan. Dalam sehari bisa laku lebih dari 20 buah.
Untuk mengembangkan usaha, beliau mengajak ibu-ibu rumah tangga berjualan burger di depan rumah atau sekolah. Mereka ambil bahan dari nya dengan harga lebih murah. Sungguh luar biasa, upaya ini berhasil. Dalam dua tahun, gerobak burger beranak menjadi lebih dari 40 buah. Kemudian pensiun menjajakan burger berkeliling dan menyerahkan semua pada anak buah.
Tak berhenti sampai di situ, tahun 1996 mencoba membuat roti sendiri dan membuat inovasi cita rasa saus. Seminggu berkutat di dapur, hasilnya tak mengecewakan. Beliau berhasil menciptakan resep roti dan saus burger bercita rasa lidah orang Indonesia. Rasanya jelas berbeda dengan burger yang dijual di berbagai restoran cepat saji.
SOURCE : http://warisancoetomocoid.wordpress.com/2009/05/19/made-ngurah-bagiana-pedagang-gerobak-jadi-pengusaha-burger

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar